Pulsa termurah, bisnis internet, dealer pulsa, distributor pulsa, sms gratis, bisnis terbaik
Article

Menggulung Handuk Menuai Untung

TOWEL CAKE – Bayu Aji (35), membuat aneka kerajinan kue dari handuk atau dikenal sebagai Towel Cake di rumahnya, Jalan Ciliwung Kota Malang, Minggu (7/8). Kerajinan dari handuk yang sudah dipasarkan seluruh Indonesia itu dijual antara Rp 4.000 hingga Rp 300.000. Foto: surya/hayu yudha prabowo

MALANG | SURYA - Handuk tidak lagi menjadi sekadar alat membersihkan tubuh usai mandi atau mencuci muka. Dengan sedikit sentuhan kreatif, lembaran handuk tanpa bentuk diubah menjadi aneka bentuk suvenir cantik yang mengemaskan dan tentunya mendatangkan laba yang besar.

Seperti yang dikerjakan oleh Vivin Endah, warga Jl Ciliwung Gang I No 55 H, Kecamatan Blimbing Kota Malang.

Bermodal kreativitas dan kejelian membaca peluang bisnis suvenir pernikahan, Vivin sejak 2007 silam berbisnis suvenir towel cake atau menyulap lembar-lembar handuk aneka warna menjadi berbagai bentuk ‘panganan’ dan ‘kue’.

Handuk yang dipakai untuk membentuk kreasi penganan itu terdiri dari berbagai macam ukuran, tergantung dari jenis yang akan dibuat.

Untuk kue donat, misalnya, Vivin memakai handuk berukuran 20 x 20 cm, sedangkan untuk kue tart dua tingkat atau tumpeng dipakai handuk yang biasa dipakai mandi sebanyak dua lembar bahkan lebih.

Untuk mempercantik towel cake yang dibuatnya, Vivin menambahkan bahan seperti kain flannel untuk membuat toping-toping tertentu agar sesuai dengan bentuk makanan aslinya, seperti taburan meses, buah chery, potongan jeruk, bahkan sampai daging ayam, dan tahu goreng.

Menurut istri dari Bayu Aji ini, suvenir kue handuk saat ini memang sedang tren dan diburu orang karena bentuknya yang unik. Selain itu, pelaku usaha pembuatan suvenir di Malang juga masih belum banyak melirik suvenir dari bahan handuk.

Kondisi ini membuat usaha pembuatan suvenir yang digeluti Vivin, selalu laris dan tidak pernah sepi order.

Bahkan di bulan bulan tertentu, yakni setelah lebaran dan Idul Adha, order pemesanan akan mencapai puncaknya, dengan satu model suvenir bisa dipesan hingga berjumlah ribuan.

Padahal, sejauh ini, Vivin lebih banyak berpromosi lewat facebook melalui akunnya Gallery Bunda Suvenir.

“Membuat satu bentuk kue memang sebentar, kira-kira lima menit. Tapi kalau harus membuat sampai ribuan buah, ya tetap saja kewalahan. Karena itu, minimal order harus diterima satu bulan hingga tiga bulan untuk bentuk yang rumit,” ucap Vivin.

Dengan mematok harta bekisar Rp 4.000 hingga Rp 10.000, Vivin mengaku bisa meraih keuntungan antara 30 sampai 50 persen dari modal yang dikeluarkannya, seperti membeli bahan baku (handuk) yang dibelinya di Surabaya, ongkos kirim dan membayar tiga orang karyawannya.

“Minimal pemesanan 100 buah. Itupun akan saya beri diskon 5 persen. Dan semakin banyak jumlah pesanan, tentunya diskon akan semakin besar,” beber Vivin saat ditemui di rumah yang juga sekaligus menjadi galeri usaha yang diberi nama Galeri Bunda Suvenir.

Belajar Detil dari Ahli Pembuat Makanan Tiruan asal Jepang

MIRIP ASLI – Tumpeng dan kue tart menjadi salah satu suvenir dari handuk yang dibuat dengan keterampilan dan ketelitian tingkat tinggi agar menyerupai aslinya. Foto: surya/hayu yudha prabowo

SIAPA sangka, awal usaha towel cake yang dirintis Vivin dengan suaminya sebenarnya berawal dari rasa iseng. Awalnya, alumni Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya ini mendapatkan suvenir kue dari handuk yang didapatnya setelah menghadiri resepsi pernikahan temannya di Surabaya.

“Bentuknya kok lucu. Iseng-iseng dan penasaran, di rumah saya bongkar dan coba saya buat lagi, dan ternyata bisa. Akhirnya saya buat aneka ragam bentuk dan banyak yang suka,” cerita Vivin mengenai asal-muasal usaha suvenir perkawinan dari handuk yang dikerjakannya sejak 2007 ini.

Agar model towel cake yang dibuatnya tidak terus sama atau monoton, Vivin terus berupaya menciptakan bentuk-bentuk baru agar konsumen mempunyai banyak pilihan. Untuk itu, Vivin rajin membuka internet mencari dan meniru kerajinan makanan buatan dari para perajin Jepang yang memang terkenal jago membuat makanan tiruan. “Apalagi untuk toping-toping seperti potongan buah-buahan, buatan orang Jepang sangat detil,” bebernya.

Vivin lalu memamerkan nasi tumpeng dari handuk yang merupakan hasil kreasinya sendiri di mana Vivin menggunakan handuk kuning sebagai tumpeng, lengkap dengan isiannya, seperti telur, daging ayam, tahu goreng, cabe, perkedel.

“Toping-nya kami contoh dari Jepang, tapi kreasi nasi tumpengnya merupakan ide kami. Jadi kami bukan hanya meniru, tapi juga menciptakan kreasi baru juga,” ungkapnya.

Nantinya, Vivin akan mengembangkan kerajinan handuk yang sudah dikuasainya dengan mencoba membuat bentuk hewan. Untuk hal ini, diperlukan juga keahlian menjahit agar bentuknya simetris. “Membuat hewan sudah bisa, hanya saja belum sempurna membuatnya, tapi prinsip melipat handuknya sudah saya pahami, tinggal latihan dan pembiasaan saja,” terangnya.

Incoming search terms:

Related posts:

  1. Untung Jamur Tidak Pernah Luntur
  2. IPW: Oegro Bisa Menuai Kecaman
  3. Raup Untung dari Orang Mati
  4. Masih Untung Demokrat Punya SBY
  5. Bantuan Inggris ke Pakistan Menuai Kontroversi
  6. Riasan Sesuai Usia
  7. Investor Ambil Untung, IHSG Ditutup Melemah
  8. Surat Direktur CAIR tahun 2009 ke Gaddafi Menuai Kecaman
  9. Seperti Apa Nokia Windows Phone?
  10. Prediksi IHSG: Waspada Ambil Untung


No comments yet.

Leave a Reply